Rabu, 03 Februari 2016

dia mocca ?


Hari ini seperti biasa dia melewati jalan setapak menuju rumahnya yang berada di sebuah perumahan sederhana di sebuah kota metropolitan yang megah. Dia tampak sama seperti gadis biasanya, rambutnya hitam panjang, bentuk tubuhnya mungil dan warna kulitnya senada dengan roti tawar yang selalu ia makan untuk sarapan. Namanya rasa dia selalu sarapan roti tawar yang diselimuti dengan selai coklat dan ditemani dengan segelas cappucino hangat. Dirumahnya dia hanya tinggal bersama dengan kakaknya rio. Beruntung dirumah hanya dia seorang yang meminum kopi cappucino, dia tidak pernah membeli kopi untuk persedian dirumah selalu rio yang membelinya. Kalian tau rasa kurang pandai dalam memilih kopi yang lezat, karna menurutnya hanya cappuccino lah kopi yang lezat atau hal itu karna dia sudah jatuh cinta pada cappuccino saat pertama kali ia mencoba kopi dan memutuskan untuk tidak mencoba kopi yang lain, hanya rasa yang tau apa yang ada dipikirannya.

Sambil mengingat cappuccino terlezat buatan rio yang sudah menunggu di meja makan, ia melewati jalanan itu dengan santai. Namun hari ini ternyata tidak seperti biasanya, lamunan rasa terhenti sejenak saat dia melihat dua orang pemuda yang sangat asing diingatannya "sepertinya mereka bukan penduduk disini, apa yang mereka lakukan ? Apakah mereka pencuri !". Rasa mempertajam pengelihatannya untuk mentelaah kedua pemuda itu, namum apa yang dia lakukan sepertinya memberikan dampak dalam kehidupannya beberapa tahun kedepan. Melihat ya melihat kedua pria tersebut adalah kesalahan pertama yang dia lakukan, mereka adalah pencuri benar mereka adalah pencuri yang sangat hebat.

Beberapa minggu kedepan tak pernah seharipun rasa tidak melewati jalan setapak itu, dia selalu mencari alasan untuk dikatakan kepada rio entah membeli alat-alat gambar atau membeli beberapa cemilan. Pernah sekali dia mengatakan ingin membeli kopi dan itu adalah alasan terbodohnya karena saat dia pulang rio menyuruhnya untuk jangan pernah menyentuh kopi-kopi yang ada di dapur dan jika rasa ingin meminum kopi maka rio yang akan membuatkannya. Sejak saat itu pula rasa memutuskan untuk membeli teleskop jarak panjang, alat ini sangat membantunya sebagai detektif instan. Profesi barunya ini sangat merepotkan untuknya, dia bahkan sudah lama tidak menyentuk alat gambarnya.

"Pencuri pencuri itu sangat merepotkan akkkhhh kenapa harus ada dia, kenapa harus ada si mocca itu!!" dia mengeluh kesal saat dia mengingat kalau dia belum mengerjakan tugas sketsa yang diberikan tutornya. Pencuri ! Jadi benar kedua pemuda itu adalah pencuri, pencuri perhatian rasa ya betul sekali. Salah satu pemuda yang dia lihat saat itu seketika memberikan sensasi yang sama persis saat dia mencoba cappucino untuk pertama kalinya, seseorang yang akan selalu melekat didirinya sama seperti cappuccinonya. Pemuda itu bertubuh tinggi, berparas tampan, rambutnya lurus potongan sebahu, dan kulitnya berwarna mocca. Mocca yang dia maksud bukanlah kopi mocca melainkan warna yang dia tau dari pengamatannya, karena dia bahkan tidak akan tau mana yang merupakan kopi mocca disaat harus memilihnya diantara beberapa kopi lainnya.

Rasa memutuskan untuk mengerjakan tugasnya terlebih dahulu sebelum dia mulai berkutik dengan berbagai macam kegiatan yang akan dia lihat melalui teleskopnya. Rasa mulai membuat gambar seorang pemuda yang sangat dikenal struktur wajahnya dengan sangat detail oleh rasa, ya siapa lagi kalau bukan dia.

Pagi hari ini rasa memutuskan untuk pergi kerumah pencuri itu yang merupakan tetangganya. Dia membawakan kue pai yang sudah dia pesan di toko dekat rumahnya, dia mengenakan celana jeans dan shirtslevees biru yang sudah dia persiapkan sejak malam setelah dia menyelesaikan tugasnya. Dia menekan bel rumah itu dengan mantapnya "dia milikku, dia harus menjadi milikku apapun yang terjadi percuma saja semua pengintaianku selama beberapa minggu ini jika dia tidak akan bersama denganku" katanya dalam hati. Saat pintu rumah itu terbuka muncullah sesosok pemuda tampan yang dia nantikan "mocca" sontak kata itu terucap dari bibirnya saat pemuda itu menyapanya.
"Eh maksudku ini pai mocca, ini sebagai tanda selamat datang dari ku dan kakakku rio. Salam kenal aku rasa"
"Terimakasih banyak. Aku kai, aku baru pindah dari selandia baru. Maaf aku tidak punya sesuatu untuk diberikan padamu dan kakakmu. Apa kau mau masuk ? Mungkin ada beberapa cemilan milikku yang kau suka"
Rasa tidak dapat berkata apapun, dia membisu karena terlalu malu dan seluruh lututnya melemas seakan dia bisa terjatuh saat ini juga. Untuk mengatakan salam perkenalan saja dia membutuhkan latihan berkali kali didepan cermin, dan sekarang kai mengajaknya untuk masuk kerumahnya. Dengan sekuat tenaga dia menggerakkan bibirnya "ehh ehh ba baiklah".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar