Kamis, 04 Februari 2016
Dia mocca ? ( chapter 2)
Rasa mulai melangkahkan kakinya melewati pintu rumah kai, namun tanpa ada selang 1 menit saja rasa sudah berlari kencang meninggalkan rumah tetangga barunya itu beserta kai yang terlihat bingung melihat tingkah rasa barusan. Dia berlali lebih cepat dibandingkan anjing penjaga rumah milik salah satu orang paling dihormati di perumahan itu, dia bahkan tidak memperdulikan bagaimana keadaan kakinya yang harus berlari menggunakan sepatu hak tinggi saat ini karna yang dia pikirkan hanyalah degup jantung yang berpacu sangat cepat dan terus bertambah cepat serta bagaiman cara menghentikannya.
Sesampainya di pintu depan rumahnya dia hampir saja bertabrakan dengan rio dan degup jantungnya pun bertambah cepat dua kali lipat, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan rio pikirkan saat melihat keadaanya sekarang. Dengan gesit rasa melewati rio dan menaiki tangga menuju ke kamarnya. "aku akan pergi ke studio, aku meninggalkan segelas cappucino dan roti untukmu. Dan jangan lupa mengunci pintu, serta berhentilah berlarian seperti anak kecil kau bisa terluka" teriak rio pada rasa yang sudah meninggalkannya jauh menaiki anak tangga. Rasa tidak memperdulikan ucapan rio karna yang ada di pikirannya saat ini hanyalah degup jantung yang berpacu melewati kemampuannya dan bagaimana cara mengembalikkannya kekeadaan normal.
Rasa berbaring di ranjang mungil miliknya sembari mengatur alur pernapasannya. "Aroma itu, aku sangat mengenalnya. Tapi dimana ? Tidak ada aroma itu dirumah maupun di sekolahku, bagamaina mungkin aku bisa sangat mengenal aroma yang bahkan baru pertama kali aku hirup" rasa menerka nerka aroma yang dia yakin kalau dia sudah sangat akrab dengan aroma tersebut, namun sekuat apapun rasa mencoba dia tidak bisa mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.
"Kenapa kai memiliki aroma itu dirumahnya ? Siapa sebenarnya si pencuri itu? Apa aku sudah mengenalnya sebelumnya ? Ah tidak mungkin wajahnya sangat asing diingatanku. Mana mungkin aku mengenalnya, jika memang iya pasti aku sudah jatuh cinta padanya saat aku bertemu dia pada pertemuan pertama, dan hal hal seperti ini tidak mungkin terjadi". Rasa mulai bisa mengontrol degup jantungnnya, kecepatannya sudah mulai kembali normal. Seiring dengan menurunnya kecepatan degup jantungnya mata rasa mulai tertutup perlahan lahan, dan tanpa disadari dia sudah terlelap dalam tidurnya.
Rasa terbangun dari tidurnya saat mendengar suara bising yang berasal dari rumah tetangga barunya itu, dengan cepat dia memposisikan tubuhnya didepan teleskop supernya. Dari teleskopnya dia melihat kai yang sedang memotong rumput dengan alat pemotong rumput, kai menggunakan celana hitam pendek dan kaus hitam yang sepertinya sudah basah dengan keringatnya disertai dengan rambut indah miliknya yang sekarang dia kuncir kuda agar tidak menyusahkannya dalam melakuakn pekerjaannya. Rasa mulai memainkan drama kecil dalam pikirannya saat dia melihat kai dari teleskop itu dan menebak nebak apa yang akan kai lakukan selanjutnya "apakah dia akan melepaskan kausnya?" pikiran rasa mulai bermain. Khayalannya terhenti tiba tiba ketika dia mengingat kejadian memalukan di rumah tetangga barunya tadi pagi, kejadian yang bahkan tidak pernah terpikirkan oleh rasa bagaimana cara memperbaikinya.
"Gadis bodoh kenapa kau lari, dia akan menganggapmu gadis yang aneh. Bagaimana ini, bagaimana aku bisa bertemu kai lagi setelah kejadian tadi pagi" gumamnya karena kesel dengan dirinya sendiri. Rasa memutari kamar tidurnya untuk memikirkan alasan yang tepat untuk kejadian tadi pagi, mungkin dia sudah memenangkan kejuaraan jalan cepat nasional jika ditotalkan berapa meter dia sudah berjalan di kamarnya yang tidak begitu besar itu. Akhirnya dia memutuskan bahwa alasan dia harus membantu kakaknya adalah alasan yang sangat tepat untuk digunakan esok hari, rasa memang sudah berencana untuk selalu mendatangi rumah tetangga barunya itu 3 hari ini.
Sore harinya rio kembali dari studio foto tempatnya bekerja, rio heran saat dia melihat cappucino dan roti yang dia buatkan untuk rasa masih tertata rapih. Rio khawatir akan keadaan adiknya dan mulai menaiki anak tangga menuju kamar rasa, sesampainya dipintu kamar rasa "rasa apa kau baik-baik saja ? Mengapa kau tidak memakan sarapanmu ? Aku sudah berbaik hati membuatkannya seperti keinginanmu". Rasa tidak menjawab rio hingga membuat rio kembali mengetuk pintu kamarnya, dia ingin memeriksanya didalam namun sudah menjadi peraturan ketat bahwa yang boleh memasuki kamar rasa hanyalah rasa sendiri. Rio pun memutuskan untuk terus mengetuk pintu kamar rasa menunggu apakah akan ada jawaban.
"Rasa kau baik baik saja kan. Cepatlah jawab, aku sudah lelah dengan pekerjaanku jangan buat aku kerepotan seperti ini"
Mendengar rio yang mengeluh didepan pintunya akhirnya rasa memutuskan untuk menghampirinya, sebenarnya dia malas untuk menghadapi rio saat ini karna mereka pasti hanya akan bertengkar jika bertemu dan rasa sudah cukup lelah memikirkan tetangga barunya.
"Aku baik baik saja okeee. Lebih baik kau kembali kekamarmu dan mandi karna kau sangat bau, apa kau tau itu !"
"Kau harusnya lebih memperhatikan dirimu dibanding menyuruh kakakmu ini mandi. Lihat kakimu, sebaiknya cepat cepat kau obati lukamu itu sebelum terjadi infeksi. Dasar bodoh" balas rio kepada rasa sembari berjalan meninggalkan kamar rasa ketika dia tau kalau rasa baik baik saja.
Karena terlalu fokus memikirkan solusi untuk masalah romantikanya dia sampai lupa kalau tadi dia berlali menggunakan sepatu hak tinggi, dan keadaan kakinya sama buruknya dengan kejadian tadi pagi. Kakinya dipenuhi luka lecet disana sini bahkan ada beberapa bagian yang berdarah, dengan perlahan dia turun kebawah untuk menggambil kotak p3k. Tapi tanpa disangka kotak tersebut sudah ada di atas meja makan dan rasa langsung saja mengobati lukanya dengan alkohol dan juga obat merah. Disaat rasa sedang mengobati lukanya rio keluar dari kamarnya.
"Hei kau yang mempersiapkan obat obat ini untukku ? Pasti kau ingin meminta bantuanku untuk melakukan sesuatu kan. Aku sedang baik hati hari ini jadi cepat katakan apa yang kau inginkan." oceh rasa saat rio datang menghampirinya.
Saat rio tiba dimeja makan dia langsung saja mengambil alkohol dan obat merah yang tadi digunakan rasa untuk mengobati lukanya.
"Apa kau tau bahwa kau itu terlalu percaya diri ! Itu bukan sifat yang baik dan itu tidak pantas untukmu. Aku tadi mengobati tanganku yang terkena property di studio, dan aku tidak ingin meminta bantuan dari orang ceroboh sepertimu, tau ! Aku hanya lupa membereskannya dan tiba tiba kau datang dan langsung menggunakannya." bantah rio kepada rasa.
Saat ini ingin sekali rasa memukulnya dengan kotak p3k namun dia tidak bisa melakukannya karna luka lukanya terasa sangat perih saat kakinya menyentuh lantai. Jangan kan untuk mengejar dan memukul rio yang sedang mengembalikan kotak p3k ke laci, untuk berdiri saja dia membutuhkan semua kekuatannya untuk menahan sakit.
Bel rumah mereka berbunyi dan akhirnya rio yang membukakan pintu setelah rasa dan rio berdebat hebat siapa yang akan membukanya, dan yang memenangkannya adalah rasa. Saat pintu terbuka rio melihat dua orang pemuda yang seumuran dengan adiknya berdiri membawakan sekotak kue brownies coklat.
"Halo saya kai dan ini adalah saudara sepupu saya austin, kami baru pindah ke rumah sebelah. Kami membawakan brownies ini sebagai tanda terimakasih atas pai mocca yang anda dan rasa berikan tadi pagi, pai itu sangat lezat. Dan maaf kami baru memperkenalkan diri hari ini" ucap kai pada rio
"Oh halo saya rio, salam kenal dan semoga kita bisa menjadi tetangga yang baik. Tapi sepertinya kalian salah rumah karena saya tidak pernah memberikan pai itu untuk anda" sahut rio kepada kedua tetangga barunya.
Rasa dapat mengenali suara itu bahkan dari jarak 5 m, dengan cepat dia menuju ke pintu depan untuk menghampiri tamunya itu. Dia bahkan menambah kecepatannya karena dia mendengar kata 'pai' terselip diantara percakapan rio dan kedua tetangga barunya.
"Bagaimana ini, apa yang akan kai pikirkan jika dia tau bahwa aku memberikan pie itu karna keinginanku sendiri bukan karna salam kenal dari ku dan rio. Akhhh kenapa masalah selalu datang seperti ini, dan awas saja kau rio jika kau sampai berbicara macam macam padanya." gumam rasa dalam hati.
Sesampainya dipintu depan semua mata tertuju pada rasa yang berdiri sembari menunjukkan raut kesakitan pada wajahnya karena luka luka dikakinya. Sontak kai langsung masuk kedalam rumah meninggalkan rio dan austin yang masih berada di pintu, kai dengan cepatnya membopong rasa ke sofa dan menyuruhnya untuk duduk saja dan kai mengatakan jika rasa ingin pergi ke kamarnya atau kemanapun kai akan menggendongnya ketempat itu. Saking terkejutnya rasa sampai lupa atas rencananya bahwa dia akan menjelaskan kenapa dia lari dari kai pagi tadi dan juga untuk memastikan kalau rio berbicara yang aneh dan tidak sesuai dengan ceritanya.
Namun berdeda dengan rio, melihat apa yang dilakukan kai terhadap adiknya tersebut rio langsung meyuruhnya untuk keluar dari rumah, dan menjauh dari adiknya. Kai sadar bahwa apa yang dia lakukan tidak benar apalagi kondisinya mereka adalah tetangga baru dan belum kenal dekat sudah pasti rio akan memperlakuaknnya seperti itu. Kai pun meminta maaf pada rio dan rasa, dan kai pun memutuskan untuk meninggalkan rumah itu bersama dengan austin.
"Maafkan saya. Saya tadi bersikap lancang terhadap adik anda, saya hanya khawatir akan keadaannya. Maafkan saya sekali lagi, saya benar benar minta maaf. Dan saya harap kedepannya hubungan kita tidak akan menjadi buruk karena kelancangan saya hari ini. Saya dan saudara saya akan kembali kerumah, dan sekali lagi maaf dan terima kasih".
"Kali ini anda saya maafkan, tapi lebih baik anda memperhatikan perilaku anda apabila anda ingin kita menjadi tetangga yang rukun" sahut rio atas permintaan maaf kai, rio memang orang yang sedikit menyebalkan tak heran jika dia lebih sering menghabiskan waktunya memotret dibandingkan berkumpul dengan teman temannya.
Melihat kejadian tersebut rasa angkat bicara ditambah lagi dia masih bingung dengan ucapan kai yang mengatakan kalau dia khawatir akan keadaannya sedangkan mereka batu pertama kali bertemu.
"Aku tidak apa apa sungguh aku bak baik saja kai, dan kau kak kenapa memperlakukan tamu seperti itu !"
"Lebih baik kau diam jika tidak tau apa apa, permasalahan ini akan menjadi lebih rumit jika kau terus berbicara dan tetap bertemu dengannya" sahut rio
Rasa hanya bisa terdiam mendengar perkataan rio tersebut dan hatinya juga masih bercampur antara senang karna dia bisa sedekat itu dengan kai atau merasa tidak enak karena kai diperlakukan seperti itu oleh rio. Saat dia melihat kearah kai yang pergi meninggalkan rumahnya, tanpa disangka kai memberikan sesimpul senyuman kecil padanya yang sepertinya akan membuatnya bergadang lagi malam ini. Namun lamunannya malam nanti harus ditambah dengan memikirkan apakah perkataan rio tadi sungguh sungguh kalau dia tidak boleh menemui kai lagi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar