i cappucino mocca
Selasa, 09 Februari 2016
Dia mocca ? (the reveal)
"Kenapa semua harus berakhir seperti ini, tak pernah terbayangkan bahwa kehidupanmu sekarang menjadi lebih menyedihkan karena keputusanmu di masa lalu. Kenapa kau harus menjadi seorang pengecut seperti ini, kenapa kau menjadi seseorang yang berbeda pada masalahmu yang satu ini, kau menjadi sangat tidak keren. Kenapa? Kenapa ? Kenapa ? Kenapa kau memilihnya saat itu, kenapa kau memilih gadis itu. Kau tau bahwa kau menyukainya saat pertama kau melihatnya berlari menghampiri keluargamu dengan senyumnya yang indah, kau bahkan tidak pernah berhenti memandanginya dan kau bahkan selalu memotretnya dengan kamera yang baru saja dibelikan oleh ayah dan ibu hingga memenghabiskan separuh film dari kamera tersebut.
Seorang adik, kau bilang pada ayah dan ibu kalau kau ingin dia menjadi adikmu karna dia terlihat rajin walau alasan sebenarnya adalah supaya kau bisa melihatnya setiap hari. Tapi kenapa kau tidak bisa melihat konsekuensi dari keputusan bodohmu saat itu, mungkin kau akan melihatnya setiap hari dan kau bisa dengan puas memandanginya kapanpun, namun hanya sebatas itu yang bisa kau dapatkan. 'Memilikinya' kata kata itu bahkan akan enggan untuk menghampirimu, jangankan menghampirimu kata kata itu hanya untuk sekedar melirik saja tidak akan pernah mau.
Dan kau sepertinya sudah gila, kau gila karenanya, karna tawanya, suaranya, matanya yang menyipit saat tersenyum, caranya meminum cappuccino buatanmu yang sangat dia sukai, caranya berbicara dan bahkan hanya karna kehadirannya saja dapat membuatmu gila. Tetapi apa dayamu, yang bisa kau lakukan hanya menjadi penggemar rahasianya, kau bahkan tidak pernah berani untuk menunjukkan perhatianmu padanya secara langsung.
Kau bilang kau akan menunggu, dia pasti akan tetap disisimu. Kau bilang pada dirimu sendiri untuk jangan mengkhawatirkan hal hal seperti itu. Lihatlah apa yang terjadi sekarang, kau sudah kehilangannya dan ini semua karna kecerobohanmu. Jika kau bisa menjauhkannya dari lelaki itu, jika kau memutuskan untuk melakukan perpindahan rumah tepat setelah kau tau bahwa dia adalah anak laki laki yang dulu kau lihat di panti asuhan, kau tidak akan kehilangannya. Dia sudah bersamanya sekarang, gadis itu sudah bersama dengan seseorang yang lebih dulu menyukainya dibandingkan kau. Sudah jelas tertulis di dahi lelaki itu bahwa dia adalah seorang pemeran utama dalam drama ini dan kau hanyalah seorang pemeran pembantu, sesulit apapun jalan yang dilalui sang pemeran utama sudah menjadi ketetapan umum kalau sang pemeran utama akan selalu menjadi pemenang.
Dan apa yang kau harapkan dari gadis itu, bertahun tahun kau tinggal bersamanya dan bertahun tahun pula kau lewatkan hari harimu dengan bertengkar dengannya. Sungguh kau sangat bodoh, kau selalu menunggunya bahkan disaat kau tau jawaban dari penantianmu hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Kau mengharapkan dia juga menyukaimu, dengan alasan apa dia bisa menyukaimu kalau kau bahkan tak pernah menunjukkan perhatianmu padanya dan yang kau lakukan malah berkata ketus padanya. Mungkin di matanya kau hanyalah seorang laki laki yang jahat dan juga aneh. Seharusnya kau biarkan saja saat dulu di panti asuhan anak laki laki itu berusaha lebih keras supaya gadis itu tidak pergi, mungkin sekarang kau akan sangat amat beterima kasih pada anak laki laki itu
karena kau tidak harus membiarkan dirimu menjadi orang bodoh seperti ini.
Saat ini kau pasti terlihat sangat menyedihkan, menyaksikan dua orang yang dulu kau pisahkan bersatu kembali. Mungkin jika dulu mereka berdua tau alasan sebenarnya kau memisahkan mereka, pasti mereka akan menganggapmu seorang penjahat dan lebih buruk lagi mereka akan menganggapmu seorang monster. Namun sepertinya sekarang kau hanyalah sebuah lelucon yang sangat menggelikan bagi mereka, usaha kerasmu bertahun tahun berakhir sia sia. Keadaan kini sama persis dengan saat itu di panti asuhan, kau yang hanyalah orang asing di kehidupan mereka berdua, orang asing yang hanya bisa melihat dari kejauhan. Sekuat apapun kau mencoba masuk diantara mereka, pada akhirnya kau akan terhempas jauh. Dan usaha kerasmu selama bertahun tahun kini kau merelakannya, kau merelakan gadis itu bersama dengan laki laki itu hanya karna kau melihat gadis itu terlihat sangat bahagia saat berada di pelukan laki laki itu. Kau membiarkanarkan dirimu mendapatkan luka yang ntah bisa kau hadapi atau tidak, kau bahkan tidak akan pernah tau apakah kau bisa melewati hari harimu setelah ini tanpa kehadirannya."
Namaku rio, aku memiliki seorang adik angkat dan aku menyukainya.
Minggu, 07 Februari 2016
Dia mocca ? (it's not the end )
Rasa akhirnya menemui kai saat rio sedang pergi memotret keesokan lusanya, disaat keadaan lukanya sudah lebih baik. Hari ini dia tidak membutuhkan waktu berjam jam untuk memilih baju apa yang akan dia kenakan, karena dia berpikir kalau dimata kai dia hanyalah seorang gadis yang aneh. Dengan mantap rasa melangkahkan kakiknya ke rumah tetangga barunya itu, walaupun yang sebenarnya terjadi adalah dia berjalan dengan amat sangat lambat karena takut jika luka luka dikakinya akan terasa sakit lagi. Setelah beberapa menit rasa belajar menirukan seekor siput yang biasa dia lihat setelah terjadinya hujan akhirnya rasa sampai didepan pintu rumah tetangganya, dia menekan dua kali bel rumah yang terletak di sebelah kiri pintu. Tak lama setelah bel kedua berbunyi, pintu rumah kai terbuka dan kai menyambut rasa dengan senyuman yang sangat hangat. Hanya sesimpul senyuman dari kai saja sudah membuat rasa luluh, entah apa yang sedang terjadi pada pikiran dan hatinya saat ini mendapatkan senyuman yang sama hangatnya dengan cappucinonya dipagi hari. Hampir beberapa menit rasa menjadikan dirinya seolah seolah sebuah manekin toko, hingga akhirnya dia kembali normal setelah kai memanggil namanya untuk yang ke 5 kali.
Hampir saja dia lupa untuk melakukan tujuannya datang kerumah tetangganya ini, rasa tidak pernah menyangka bahwa senyuman dari kai dapat membuyarkan konsentrasinya, senyuman itu sama halnya dengan sebuah kerikil dan pikirannya bagaikan air di sebuah danau besar yang dapat dengan mudah beriak saat sebuah kerikil kecil mengenai permukaan airnya. Setelah dia tersadar langsung saja dia berkata pada kai apa tujuannya "kai sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu padamu, aku hmm aku menyukaimu" tanpa ada jangka waktu beberapa menit rasa langsung kembali berbicara namun dengan intonasi yang lebih cepat, bahkan sangat cepat bagaikan seorang rapper ternama "apa yang aku lakukan, maksudku bukan seperti ini, aku ehh maafkan aku, ah dasar gadis bodoh. Sebaiknya aku pulang saja, kai maaf anggap saja bahwa yang barusan itu tidak pernah terjadi, ok, bye". Saat ini rasa benar benar sangat malu dengan dirinya sendiri, dia bahkan memikirkan untuk tidak akan pernah keluar rumah dan jika bisa pindah dia ingin jika perpindahan itu dilakukan secepat mungkin.
Rasa langsung saja melangkah pergi menjauhi pintu rumah kai, namun tidak disangka tiba tiba kai sudah ada di depannya saat dia membalikkan badannya. "Jangan pergi, aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi kali ini. Aku juga menyukaimu rasa, kau mungkin tidak akan tau seberapa besar perasaanku padamu. Tapi aku sungguh sungguh menyukaimu, kau mungkin akan berfikir aku gila karena aku mengatakan bahwa aku sangat menyukaimu sedangkan kita baru beberapa kali bertemu. Percayalah padaku, aku bukanlah laki laki brengsek yang suka mempermainkan perempuan. Dan kau mungkin tidak akan menyangka kalau bisa jadi aku lebih dulu menyukaimu dibandingkan waktu yang kau butuhkan untuk menyukaiku. Aku ingin menjagamu dan selalu ada untukmu, kumohon percaya padaku dan jangan pernah pergi lagi dariku, karena itu akan sangat menyakitkan". Saat ini rasa benar benar kaget dan bingung dengan apa yang baru saja kai katakan padanya, dia bahkan mengira kalau dia sedang bermimpi saat ini tetapi ini semua terasa sangat nyata bahkan dia bisa merasakan hembusan nafas kai saat kai berbicara. "Aku tidak sedang bermimpi kan ? Apa ini benar benar terjadi ? Apa kai yang sedang berdiri didepanku ini nyata atau hanya imajinasiku saja ?" niat rasa hanya berbicara dalam hati tetapi yang dia lakukan sebenarnya adalah berbicara dengan suara yang cukup besar hingga kai dapat dengan jelas mendengarnya.
Tiba tiba rasa merasakan tubuhnya menjadi lebih hangat, padahal pagi ini udara cukup dingin karena awan sudah mulai menunjukan sisi gelapnya. Rasa merasakan pelukan yang sangat nyaman untuknya seakan akan ini adalah pelukan dari orang yang sudah dia sayangi sejak lama. "Maaf jika aku memelukmu seperti ini rasa, aku benar benar tidak ingin kehilangan dirimu lagi aku tidak ingin kau pergi meninggalkanku. Saat ini ayo kita jalani kenyataan dan jangan hanya berimajinasi, aku bukanlah imajinasimu lagi, aku sudah menjadi kenyataan untukmu dan hanya untukmu. Sama seperti kau yang saat ini menjadi kenyataan untukku setelah aku menunggu untuk sekian lamanya".
Kai memang sudah lebih dulu menyukai rasa jauh sebelum mereka berdua tau apa yang dimaksud dengan kata 'suka' itu sendiri, bisa dikatan bukan kai lah yang mencuri perhatian rasa namun rasa yang selama ini mejadi pencuri perhatian kai sekaligus menjadi penjahat paling keji baginya. Kira kira saat itu umur mereka berdua masih 4 tahun, mereka besar besama di panti asuhan Ananda. Kai dan rasa merupakan teman baik, hal ini dikarenakan juga karna hanya mereka berdua yang sebaya, teman teman mereka yang lain memiliki umur lebih tua atau lebih muda. Mereka melakukan hampir semua hal bersama sama, mereka menyukai hal yang sama, bahkan memiliki selera makan yang sama, hanya saja rasa sangat benci menjadi anak yatim piatu dan dia sangat ingin memiliki keluarga, berbeda dengan kai yang tidak memperdulikan akan hadirnya sosok ayah atau ibu di kehidupannya asalkan dia bisa terus bersama sama dengan rasa.
Hari itu ketika ada mobil asing yang datang ke panti asuhan mereka, sudah menjadi hal yang wajar dan mereka tau jika mereka akan kehilangan salah satu dari teman mereka. Namun hari itu adalah hari terberat bagi kai, karna dia tidak pernah menyangka akan kehilangan rasa dan hari ini juga merupakan hari terakhirnya bermain bersama dengan rasa ditambah lagi kai mendengar bahwa akan sulit untuk menemui rasa karena dia akan tinggal bersama keluarganya di luar negeri. Kai sudah membujuk rasa berulang kali untuk jangan ikut dengan keluarga barunya, namun usahanya sia sia saja karena keinginan rasa memiliki keluarga sangatlah kuat. Sudah hampir sebulan kai menjadi pemurung setelah kepergian rasa dari panti asuhan, bahkan dia hanya makan sehari sekali dan itupun harus dipaksa oleh ibu panti.
Tiba tiba ada sebuah mobil asing yang datang ke panti asuhan mereka, kali ini bukanlah orang pribumi yang mengunjungi panti mereka melainkan orang asing. Kai tidak pernah melihat seseorang dengan rambut berwarna coklat dan memiliki pupil mata yang berwarna biru sebelumnya, dan hal ini cukup menarik perhatiannya. Dia pun langsung bersemangat saat ibu panti bilang kalau mereka adalah orang orang yang berasal dari luar negeri, sontak kai pun langsung meminta pada ibu panti untuk menyuruh orang asing itu membawanya bersama mereka. Memang kai tidak pernah menginginkan mempunyai orang tua dan hal itu masih belum berubah, namun saat dia tau kalau mereka berasal dari luar negeri kai sangat berharap bisa menemui rasa saat nanti kai tinggal bersama mereka.
Setelah kai mulai tumbuh dewasa bersama keluarga barunya di selandia baru, dia akhirnya menyadari bahwa luar negeri itu sangatlah luas dan luar negeri bukanlah suatu daerah kecil yang biasa dia bayangkan selama ini saat masih di panti. Namun kai tidak pernah berhenti mencarinya dengan cara apapun, hingga akhirnya dia mendapatkan akun media sosial milik rasa dan dia melihat bahwa saat ini rasa tinggal di Indonesia. Tanpa pikir panjang kai langsung pergi ke Indonesia bersama dengan sepupunya dan memutuskan untuk menetap disana sembari mencari alamat rumah rasa. Dan kai tidak menyangka kalau dewi fortuna sepertinya sedang berbaik hati pada kai, karena tanpa disangka orang yang dia cari cari selama ini tinggal disebelah rumah yang akan dia tempati sekarang.
Wajah gadis yang dia lihat saat pertama kali bertemu dengannya, wajah gadis itu sangat dia kenal karena dia takkan mungkin bisa melupakan wajah rasa. Saat itu juga dia langsung membuat lilin aroma terapi khas untuk ruangan berbau mocca yang dulu selalu dia nyalakan di panti agar rasa lebih mudah tertidur, hal itu dia lakukan karena saat itu rasa bilang kalau rasa sangat menyukai aroma lilin yang kai buat. Kai berharap rasa bisa mengenalinya jika mengingat aroma tersebut apabila suatu saat rasa bertamu kerumahnya. Namun saat rasa datang kerumah kai ternyata rasa tidak mengenalinya sama sekali, karena hal itu akhirnya kai memutuskan untuk tidak bertindak terlalu cepat dengan langsung mengatakan pada rasa kalau dia adalah kai, teman masa kecilnya. Hal ini juga karena dia teringat bahwa rasa sangat membenci menjadi yatim piatu dan rasa tidak pernah ingin berada di panti asuhan. Kai pun akhirnya memutuskan untuk membiarkannya berjalan perlahan lahan saja dan dia berniat tidak akan menceritakan masalah panti asuhan kepada rasa karena dia takut rasa akan membencinya nanti.
Sabtu, 06 Februari 2016
Dia mocca ? (Chapter 3)
Semalaman suntuk dia terjaga memikirkan apa yang harus dia lakukan apabila rio bersungguh-sungguh dengan perkataannya tadi, dan tak jarang juga pikirannya teralihkan oleh tetangga barunya yang tadi sore melakukan kejahatan tingkat tinggi padanya, sesimpul senyuman itu merupakan kejahatan besar yang telah kai lakukan pada rasa. "Hei gadis bodoh kenapa kau bisa luluh hanya karna senyuman kecil darinya. Dan kenapa dia bisa menjadi penjahat super keji seperti ini dan kau hanya diam saja diperlakukan seperti itu. Dasar tetangga tidak tahu diri huhh" gumamnya kesal sembari mencoba untuk memejamkan matanya. Sudah pukul 2 pagi dan dia masih tetap saja tidak bisa memejamkan matanya, rasa pun akhirnya menggambil buku yang sudah dia siapkan disebelah kasurnya. Buku merupakan senjata ampuh yang selalu dia gunakan untuk membantunya tidur, dengan membaca 5 halaman saja dia bisa langsung tertidur pulas.
Pagi harinya saat rasa membuka pintu kamarnya sudah tercium aroma cappucino dan roti panggang yang sangat lezat, makanan terlezat menurut rasa adalah makanan yang dibuatkan oleh rio. Walaupun rasa selalu bertengkar dengan rio namun rasa juga memiliki kekaguman yang sangat tinggi padanya, menurutnya rio sangat cocok dengan kata perfect. Rio bertubuh kurus dan tinggi, rambutnya sama dengan laki laki kebanyakan namun rambut rio jauh lebih indah dan rio memiliki warna kulit yang senada dengan susu putih yang selalu rasa minum sebelum tidur. Rio sangatlah berbeda dengan rasa, mulai dari bentuk tubuh mereka, warna kulit mereka, kepandaian mereka, bahkan selera kopi mereka juga berbeda. Kedua orang tua mereka sudah sangat terbiasa dengan kebiasan mereka yang tidak pernah akur satu sama lain, namun orang tua mereka tau bahwa mereka sering memberikan perhatian lebih antara satu sama lain walaupun mereka melakukannya secara diam diam. Setelah kedua orang tua mereka meninggal rasa menjadi tanggung jawab rio sepenuhnya sehingga wajar saja jika dia terkadang sangat over protective pada rasa, hal ini yang membuat rasa sangat tidak nyaman atau bisa dibilang rasa sangat amat tidak nyaman dengan semua hal yang dilakukan rio setelah kedua orang tua mereka meninggal. Rasa bukan tidak nyaman dengan hal yang dilakukan rio tetapi dia lebih tidak nyaman dengan dirinya sendiri dalam menanggapi hal-hal tersebut, bahkan dia harus berjuang melawan dirinya sendiri dengan sekuat tenaga. Tak jarang rasa selalu gagal melakukannya, namun dia menganggap kalau hal ini sama seperti ujian matematika, sesulit apapun soal matematika pasti memiliki sebuah jawaban, apabila kita gagal menggunakan cara yang pertama masih terdapat banyak cara yang bisa kita aplikasikan untuk menyelesaikan soal tersebut.
Kehadiran kai bisa jadi merupakan hasil dari soal matematika rasa, saat pertama melihat kai dia dengan cepat memutuskan bahwa kai adalah jawabannya, jawaban yang sangat amat tepat dan dia harus mendapatkan jawaban itu. Untuk itu rasa mulai mengawasi kai dari jauh dan membeli teleskop untuk mengetahui kepribadiannya dan apa saja yang kai sukai dan kai benci. Namun dia tidak menyangka kalau dia akan terperangkap oleh rencana yang dia buat sendiri dan sepertinya tidak akan ada jalan keluar untuknya. Sekarang dia bagaikan tom dan kai bagaikan jerry tentu sudah jelas sekali siapa yang akan memenangkan permainan ini. Tak henti hentinya kai melakukan sesuatu yang membuat rasa semakin meluncur jauh dari kata kemenangan, dan puncaknya merupakan kejadian yang dia alami tadi malam. Tidak, sepertinya benar benar tidak ada jalan keluar bagi rasa karna sekarang dia mendapatkan hukuman dari permainan yang dia buat sendiri.
Setelah rasa memutuskan untuk datang kerumah tetangga barunya itu sepertinya merupakan awal pertama kekalahan rasa. Kai tidak seperti yang dia bayangakan, menurutnya terlalu banyak misteri yang tersembunyi pada diri kai dan entah mengapa hal itu membuat rasa memiliki obsesi lebih pada kai. Ditambah lagi aroma yang berasal dari rumah kai aroma yang menurutnya sangat ia ketahui, namun hingga saat ini tetap saja dia tidak bisa mengingat aroma itu. Dan juga saat kai memperlihatkan ke khawatirannya pada rasa, mimik wajahnya menunjukkan rasa cemas yang amat terlihat dan perlakuannya pada rasa seolah olah rasa adalah orang yang sudah dia kenal sejak lama dan orang yang sangat dia sayangi. Bahkan rasa berharap jika memang sebelumnya mereka pernah mengenal satu sama lain tak bisakah mereka bersama, pertemuan mereka sekarang saja sudah dianggap sebuah takdir olehnya.
Bersama dengan kai merupakan takdir yang sangat rasa inginkan, tetapi kata wujudkan sepertinya lebih tepat dibanding inginkan. Rasa tidak bisa lagi berdiam diri, rasa harus cepat mewujudkan takdir bersama dengan kai untuk menggantikan takdir yang dia hadapi saat ini, sebuah takdir yang sudah terjadi dan tidak bisa dia ubah. Takdir yang memutuskan bahwa rio dan rasa harus menjadi adik kakak dan perasaan rasa yang mulai tumbuh kepada rio disaat kedua orang tua mereka meninggal, perasaan yang melebihi tingkat dari seorang adik pada kakaknya. Sudah dua tahun dia memiliki perasaan aneh tersebut, dia hanya bisa menahannya karena hal yang dia inginkan dari perasaan ini tidak mungkin bisa terjadi. Dan dia terus mencoba menghilangkan perasaan itu tetapi selalu gagal, hingga dia mulai membuat peraturan peraturan untuk dirinya.
Dia membuat beberapa peraturan, pertama dia hanya akan keluar kamar untuk makan dan kesekolah, kedua dia akan berusaha untuk bersikap lebih menjengkelkan saat berhadapan dengan rio agar mereka akan selalu bertengkar, dan terakhir hanya rasa yang boleh memasuki kamarnya. Peraturan terakhir dia buat bukan karena dia takut rio akan melakukan sesuatu padanya namun dia takut kalau rio sampai melihat sketsa sketsa dan lukisan rasa yang hampir semua sketsa dan lukisan tersebut adalah wajah rio, rasa sangat takut kalau rio sampai mengetahui rahasia terbesar yang rasa sembunyikan didalam kamarnya dan juga hatinya. Namun dengan kehadiran kai dia benar benar berharap bahwa masalah yang dia hadapi saat ini akan selasai, walaupun dia menemui masalah masalah baru yang juga harus dia hadapi dari tetangganya itu.
Kamis, 04 Februari 2016
Dia mocca ? ( chapter 2)
Rasa mulai melangkahkan kakinya melewati pintu rumah kai, namun tanpa ada selang 1 menit saja rasa sudah berlari kencang meninggalkan rumah tetangga barunya itu beserta kai yang terlihat bingung melihat tingkah rasa barusan. Dia berlali lebih cepat dibandingkan anjing penjaga rumah milik salah satu orang paling dihormati di perumahan itu, dia bahkan tidak memperdulikan bagaimana keadaan kakinya yang harus berlari menggunakan sepatu hak tinggi saat ini karna yang dia pikirkan hanyalah degup jantung yang berpacu sangat cepat dan terus bertambah cepat serta bagaiman cara menghentikannya.
Sesampainya di pintu depan rumahnya dia hampir saja bertabrakan dengan rio dan degup jantungnya pun bertambah cepat dua kali lipat, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan rio pikirkan saat melihat keadaanya sekarang. Dengan gesit rasa melewati rio dan menaiki tangga menuju ke kamarnya. "aku akan pergi ke studio, aku meninggalkan segelas cappucino dan roti untukmu. Dan jangan lupa mengunci pintu, serta berhentilah berlarian seperti anak kecil kau bisa terluka" teriak rio pada rasa yang sudah meninggalkannya jauh menaiki anak tangga. Rasa tidak memperdulikan ucapan rio karna yang ada di pikirannya saat ini hanyalah degup jantung yang berpacu melewati kemampuannya dan bagaimana cara mengembalikkannya kekeadaan normal.
Rasa berbaring di ranjang mungil miliknya sembari mengatur alur pernapasannya. "Aroma itu, aku sangat mengenalnya. Tapi dimana ? Tidak ada aroma itu dirumah maupun di sekolahku, bagamaina mungkin aku bisa sangat mengenal aroma yang bahkan baru pertama kali aku hirup" rasa menerka nerka aroma yang dia yakin kalau dia sudah sangat akrab dengan aroma tersebut, namun sekuat apapun rasa mencoba dia tidak bisa mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.
"Kenapa kai memiliki aroma itu dirumahnya ? Siapa sebenarnya si pencuri itu? Apa aku sudah mengenalnya sebelumnya ? Ah tidak mungkin wajahnya sangat asing diingatanku. Mana mungkin aku mengenalnya, jika memang iya pasti aku sudah jatuh cinta padanya saat aku bertemu dia pada pertemuan pertama, dan hal hal seperti ini tidak mungkin terjadi". Rasa mulai bisa mengontrol degup jantungnnya, kecepatannya sudah mulai kembali normal. Seiring dengan menurunnya kecepatan degup jantungnya mata rasa mulai tertutup perlahan lahan, dan tanpa disadari dia sudah terlelap dalam tidurnya.
Rasa terbangun dari tidurnya saat mendengar suara bising yang berasal dari rumah tetangga barunya itu, dengan cepat dia memposisikan tubuhnya didepan teleskop supernya. Dari teleskopnya dia melihat kai yang sedang memotong rumput dengan alat pemotong rumput, kai menggunakan celana hitam pendek dan kaus hitam yang sepertinya sudah basah dengan keringatnya disertai dengan rambut indah miliknya yang sekarang dia kuncir kuda agar tidak menyusahkannya dalam melakuakn pekerjaannya. Rasa mulai memainkan drama kecil dalam pikirannya saat dia melihat kai dari teleskop itu dan menebak nebak apa yang akan kai lakukan selanjutnya "apakah dia akan melepaskan kausnya?" pikiran rasa mulai bermain. Khayalannya terhenti tiba tiba ketika dia mengingat kejadian memalukan di rumah tetangga barunya tadi pagi, kejadian yang bahkan tidak pernah terpikirkan oleh rasa bagaimana cara memperbaikinya.
"Gadis bodoh kenapa kau lari, dia akan menganggapmu gadis yang aneh. Bagaimana ini, bagaimana aku bisa bertemu kai lagi setelah kejadian tadi pagi" gumamnya karena kesel dengan dirinya sendiri. Rasa memutari kamar tidurnya untuk memikirkan alasan yang tepat untuk kejadian tadi pagi, mungkin dia sudah memenangkan kejuaraan jalan cepat nasional jika ditotalkan berapa meter dia sudah berjalan di kamarnya yang tidak begitu besar itu. Akhirnya dia memutuskan bahwa alasan dia harus membantu kakaknya adalah alasan yang sangat tepat untuk digunakan esok hari, rasa memang sudah berencana untuk selalu mendatangi rumah tetangga barunya itu 3 hari ini.
Sore harinya rio kembali dari studio foto tempatnya bekerja, rio heran saat dia melihat cappucino dan roti yang dia buatkan untuk rasa masih tertata rapih. Rio khawatir akan keadaan adiknya dan mulai menaiki anak tangga menuju kamar rasa, sesampainya dipintu kamar rasa "rasa apa kau baik-baik saja ? Mengapa kau tidak memakan sarapanmu ? Aku sudah berbaik hati membuatkannya seperti keinginanmu". Rasa tidak menjawab rio hingga membuat rio kembali mengetuk pintu kamarnya, dia ingin memeriksanya didalam namun sudah menjadi peraturan ketat bahwa yang boleh memasuki kamar rasa hanyalah rasa sendiri. Rio pun memutuskan untuk terus mengetuk pintu kamar rasa menunggu apakah akan ada jawaban.
"Rasa kau baik baik saja kan. Cepatlah jawab, aku sudah lelah dengan pekerjaanku jangan buat aku kerepotan seperti ini"
Mendengar rio yang mengeluh didepan pintunya akhirnya rasa memutuskan untuk menghampirinya, sebenarnya dia malas untuk menghadapi rio saat ini karna mereka pasti hanya akan bertengkar jika bertemu dan rasa sudah cukup lelah memikirkan tetangga barunya.
"Aku baik baik saja okeee. Lebih baik kau kembali kekamarmu dan mandi karna kau sangat bau, apa kau tau itu !"
"Kau harusnya lebih memperhatikan dirimu dibanding menyuruh kakakmu ini mandi. Lihat kakimu, sebaiknya cepat cepat kau obati lukamu itu sebelum terjadi infeksi. Dasar bodoh" balas rio kepada rasa sembari berjalan meninggalkan kamar rasa ketika dia tau kalau rasa baik baik saja.
Karena terlalu fokus memikirkan solusi untuk masalah romantikanya dia sampai lupa kalau tadi dia berlali menggunakan sepatu hak tinggi, dan keadaan kakinya sama buruknya dengan kejadian tadi pagi. Kakinya dipenuhi luka lecet disana sini bahkan ada beberapa bagian yang berdarah, dengan perlahan dia turun kebawah untuk menggambil kotak p3k. Tapi tanpa disangka kotak tersebut sudah ada di atas meja makan dan rasa langsung saja mengobati lukanya dengan alkohol dan juga obat merah. Disaat rasa sedang mengobati lukanya rio keluar dari kamarnya.
"Hei kau yang mempersiapkan obat obat ini untukku ? Pasti kau ingin meminta bantuanku untuk melakukan sesuatu kan. Aku sedang baik hati hari ini jadi cepat katakan apa yang kau inginkan." oceh rasa saat rio datang menghampirinya.
Saat rio tiba dimeja makan dia langsung saja mengambil alkohol dan obat merah yang tadi digunakan rasa untuk mengobati lukanya.
"Apa kau tau bahwa kau itu terlalu percaya diri ! Itu bukan sifat yang baik dan itu tidak pantas untukmu. Aku tadi mengobati tanganku yang terkena property di studio, dan aku tidak ingin meminta bantuan dari orang ceroboh sepertimu, tau ! Aku hanya lupa membereskannya dan tiba tiba kau datang dan langsung menggunakannya." bantah rio kepada rasa.
Saat ini ingin sekali rasa memukulnya dengan kotak p3k namun dia tidak bisa melakukannya karna luka lukanya terasa sangat perih saat kakinya menyentuh lantai. Jangan kan untuk mengejar dan memukul rio yang sedang mengembalikan kotak p3k ke laci, untuk berdiri saja dia membutuhkan semua kekuatannya untuk menahan sakit.
Bel rumah mereka berbunyi dan akhirnya rio yang membukakan pintu setelah rasa dan rio berdebat hebat siapa yang akan membukanya, dan yang memenangkannya adalah rasa. Saat pintu terbuka rio melihat dua orang pemuda yang seumuran dengan adiknya berdiri membawakan sekotak kue brownies coklat.
"Halo saya kai dan ini adalah saudara sepupu saya austin, kami baru pindah ke rumah sebelah. Kami membawakan brownies ini sebagai tanda terimakasih atas pai mocca yang anda dan rasa berikan tadi pagi, pai itu sangat lezat. Dan maaf kami baru memperkenalkan diri hari ini" ucap kai pada rio
"Oh halo saya rio, salam kenal dan semoga kita bisa menjadi tetangga yang baik. Tapi sepertinya kalian salah rumah karena saya tidak pernah memberikan pai itu untuk anda" sahut rio kepada kedua tetangga barunya.
Rasa dapat mengenali suara itu bahkan dari jarak 5 m, dengan cepat dia menuju ke pintu depan untuk menghampiri tamunya itu. Dia bahkan menambah kecepatannya karena dia mendengar kata 'pai' terselip diantara percakapan rio dan kedua tetangga barunya.
"Bagaimana ini, apa yang akan kai pikirkan jika dia tau bahwa aku memberikan pie itu karna keinginanku sendiri bukan karna salam kenal dari ku dan rio. Akhhh kenapa masalah selalu datang seperti ini, dan awas saja kau rio jika kau sampai berbicara macam macam padanya." gumam rasa dalam hati.
Sesampainya dipintu depan semua mata tertuju pada rasa yang berdiri sembari menunjukkan raut kesakitan pada wajahnya karena luka luka dikakinya. Sontak kai langsung masuk kedalam rumah meninggalkan rio dan austin yang masih berada di pintu, kai dengan cepatnya membopong rasa ke sofa dan menyuruhnya untuk duduk saja dan kai mengatakan jika rasa ingin pergi ke kamarnya atau kemanapun kai akan menggendongnya ketempat itu. Saking terkejutnya rasa sampai lupa atas rencananya bahwa dia akan menjelaskan kenapa dia lari dari kai pagi tadi dan juga untuk memastikan kalau rio berbicara yang aneh dan tidak sesuai dengan ceritanya.
Namun berdeda dengan rio, melihat apa yang dilakukan kai terhadap adiknya tersebut rio langsung meyuruhnya untuk keluar dari rumah, dan menjauh dari adiknya. Kai sadar bahwa apa yang dia lakukan tidak benar apalagi kondisinya mereka adalah tetangga baru dan belum kenal dekat sudah pasti rio akan memperlakuaknnya seperti itu. Kai pun meminta maaf pada rio dan rasa, dan kai pun memutuskan untuk meninggalkan rumah itu bersama dengan austin.
"Maafkan saya. Saya tadi bersikap lancang terhadap adik anda, saya hanya khawatir akan keadaannya. Maafkan saya sekali lagi, saya benar benar minta maaf. Dan saya harap kedepannya hubungan kita tidak akan menjadi buruk karena kelancangan saya hari ini. Saya dan saudara saya akan kembali kerumah, dan sekali lagi maaf dan terima kasih".
"Kali ini anda saya maafkan, tapi lebih baik anda memperhatikan perilaku anda apabila anda ingin kita menjadi tetangga yang rukun" sahut rio atas permintaan maaf kai, rio memang orang yang sedikit menyebalkan tak heran jika dia lebih sering menghabiskan waktunya memotret dibandingkan berkumpul dengan teman temannya.
Melihat kejadian tersebut rasa angkat bicara ditambah lagi dia masih bingung dengan ucapan kai yang mengatakan kalau dia khawatir akan keadaannya sedangkan mereka batu pertama kali bertemu.
"Aku tidak apa apa sungguh aku bak baik saja kai, dan kau kak kenapa memperlakukan tamu seperti itu !"
"Lebih baik kau diam jika tidak tau apa apa, permasalahan ini akan menjadi lebih rumit jika kau terus berbicara dan tetap bertemu dengannya" sahut rio
Rasa hanya bisa terdiam mendengar perkataan rio tersebut dan hatinya juga masih bercampur antara senang karna dia bisa sedekat itu dengan kai atau merasa tidak enak karena kai diperlakukan seperti itu oleh rio. Saat dia melihat kearah kai yang pergi meninggalkan rumahnya, tanpa disangka kai memberikan sesimpul senyuman kecil padanya yang sepertinya akan membuatnya bergadang lagi malam ini. Namun lamunannya malam nanti harus ditambah dengan memikirkan apakah perkataan rio tadi sungguh sungguh kalau dia tidak boleh menemui kai lagi.
Rabu, 03 Februari 2016
dia mocca ?
Hari ini seperti biasa dia melewati jalan setapak menuju rumahnya yang berada di sebuah perumahan sederhana di sebuah kota metropolitan yang megah. Dia tampak sama seperti gadis biasanya, rambutnya hitam panjang, bentuk tubuhnya mungil dan warna kulitnya senada dengan roti tawar yang selalu ia makan untuk sarapan. Namanya rasa dia selalu sarapan roti tawar yang diselimuti dengan selai coklat dan ditemani dengan segelas cappucino hangat. Dirumahnya dia hanya tinggal bersama dengan kakaknya rio. Beruntung dirumah hanya dia seorang yang meminum kopi cappucino, dia tidak pernah membeli kopi untuk persedian dirumah selalu rio yang membelinya. Kalian tau rasa kurang pandai dalam memilih kopi yang lezat, karna menurutnya hanya cappuccino lah kopi yang lezat atau hal itu karna dia sudah jatuh cinta pada cappuccino saat pertama kali ia mencoba kopi dan memutuskan untuk tidak mencoba kopi yang lain, hanya rasa yang tau apa yang ada dipikirannya.
Sambil mengingat cappuccino terlezat buatan rio yang sudah menunggu di meja makan, ia melewati jalanan itu dengan santai. Namun hari ini ternyata tidak seperti biasanya, lamunan rasa terhenti sejenak saat dia melihat dua orang pemuda yang sangat asing diingatannya "sepertinya mereka bukan penduduk disini, apa yang mereka lakukan ? Apakah mereka pencuri !". Rasa mempertajam pengelihatannya untuk mentelaah kedua pemuda itu, namum apa yang dia lakukan sepertinya memberikan dampak dalam kehidupannya beberapa tahun kedepan. Melihat ya melihat kedua pria tersebut adalah kesalahan pertama yang dia lakukan, mereka adalah pencuri benar mereka adalah pencuri yang sangat hebat.
Beberapa minggu kedepan tak pernah seharipun rasa tidak melewati jalan setapak itu, dia selalu mencari alasan untuk dikatakan kepada rio entah membeli alat-alat gambar atau membeli beberapa cemilan. Pernah sekali dia mengatakan ingin membeli kopi dan itu adalah alasan terbodohnya karena saat dia pulang rio menyuruhnya untuk jangan pernah menyentuh kopi-kopi yang ada di dapur dan jika rasa ingin meminum kopi maka rio yang akan membuatkannya. Sejak saat itu pula rasa memutuskan untuk membeli teleskop jarak panjang, alat ini sangat membantunya sebagai detektif instan. Profesi barunya ini sangat merepotkan untuknya, dia bahkan sudah lama tidak menyentuk alat gambarnya.
"Pencuri pencuri itu sangat merepotkan akkkhhh kenapa harus ada dia, kenapa harus ada si mocca itu!!" dia mengeluh kesal saat dia mengingat kalau dia belum mengerjakan tugas sketsa yang diberikan tutornya. Pencuri ! Jadi benar kedua pemuda itu adalah pencuri, pencuri perhatian rasa ya betul sekali. Salah satu pemuda yang dia lihat saat itu seketika memberikan sensasi yang sama persis saat dia mencoba cappucino untuk pertama kalinya, seseorang yang akan selalu melekat didirinya sama seperti cappuccinonya. Pemuda itu bertubuh tinggi, berparas tampan, rambutnya lurus potongan sebahu, dan kulitnya berwarna mocca. Mocca yang dia maksud bukanlah kopi mocca melainkan warna yang dia tau dari pengamatannya, karena dia bahkan tidak akan tau mana yang merupakan kopi mocca disaat harus memilihnya diantara beberapa kopi lainnya.
Rasa memutuskan untuk mengerjakan tugasnya terlebih dahulu sebelum dia mulai berkutik dengan berbagai macam kegiatan yang akan dia lihat melalui teleskopnya. Rasa mulai membuat gambar seorang pemuda yang sangat dikenal struktur wajahnya dengan sangat detail oleh rasa, ya siapa lagi kalau bukan dia.
Pagi hari ini rasa memutuskan untuk pergi kerumah pencuri itu yang merupakan tetangganya. Dia membawakan kue pai yang sudah dia pesan di toko dekat rumahnya, dia mengenakan celana jeans dan shirtslevees biru yang sudah dia persiapkan sejak malam setelah dia menyelesaikan tugasnya. Dia menekan bel rumah itu dengan mantapnya "dia milikku, dia harus menjadi milikku apapun yang terjadi percuma saja semua pengintaianku selama beberapa minggu ini jika dia tidak akan bersama denganku" katanya dalam hati. Saat pintu rumah itu terbuka muncullah sesosok pemuda tampan yang dia nantikan "mocca" sontak kata itu terucap dari bibirnya saat pemuda itu menyapanya.
"Eh maksudku ini pai mocca, ini sebagai tanda selamat datang dari ku dan kakakku rio. Salam kenal aku rasa"
"Terimakasih banyak. Aku kai, aku baru pindah dari selandia baru. Maaf aku tidak punya sesuatu untuk diberikan padamu dan kakakmu. Apa kau mau masuk ? Mungkin ada beberapa cemilan milikku yang kau suka"
Rasa tidak dapat berkata apapun, dia membisu karena terlalu malu dan seluruh lututnya melemas seakan dia bisa terjatuh saat ini juga. Untuk mengatakan salam perkenalan saja dia membutuhkan latihan berkali kali didepan cermin, dan sekarang kai mengajaknya untuk masuk kerumahnya. Dengan sekuat tenaga dia menggerakkan bibirnya "ehh ehh ba baiklah".
Langganan:
Postingan (Atom)